Silsilah Walisongo
sampai Nabi Muhammad SAW

Samarkand • Bukhara • Fergana Jalur Al-Kazhimi Asia Tengah
Generasi 1 Ahlul Bait
Nabi Muhammad SAW
Rasulullah
Tahun: 570-632 M
Lokasi: Makkah/Madinah
Nabi terakhir yang diutus untuk seluruh alam. Beliau bersabda: "Aku tinggalkan dua pusaka: Al-Quran dan Ahlul Bait." Dari putrinya Fatimah, lahirlah Hasan dan Husein yang menjadi leluhur para wali di Nusantara.
Nasab Ahlul Bait
Leluhur Ahlul Bait
Generasi 2 Ahlul Bait
Sayyidatina Fatimah Az-Zahra
Puteri Rasulullah
Tahun: 605-632 M
Lokasi: Madinah
Putri kesayangan Nabi yang dikenal sangat zuhud. Tangannya lecet karena menggiling gandum, namun ia lebih memilih hidup sederhana daripada meminta pembantu. Nabi bersabda: "Fatimah adalah bagian dari diriku."
Nasab Ahlul Bait
Ibu Hasan & Husein
Generasi 3 Ahlul Bait
Sayyidina Hasan bin Ali
Al-Mujtaba
Tahun: 624-670 M
Lokasi: Madinah
Cucu Nabi yang dikenal sangat dermawan. Tiga kali ia membagi dua hartanya: separuh disimpan, separuh disedekahkan. Ia rela melepaskan jabatan khalifah demi mencegah pertumpahan darah umat Islam.
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-2, jalur Hasani
Sayyidina Husein bin Ali
Sayyidus Syuhada
Tahun: 626-680 M
Lokasi: Madinah/Karbala
Cucu Nabi yang gugur di Karbala. Dalam perjalanan menuju Karbala, ia membagikan seluruh air minumnya kepada anak-anak yang kehausan di padang pasir, meski ia sendiri juga kehausan. Keturunannya menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Asia Tengah dan Nusantara.
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-3, leluhur Al-Kazhimi
Generasi 4 Ahlul Bait
Ali Zainal Abidin bin Husein
As-Sajjad
Tahun: 658-713 M
Lokasi: Madinah
Satu-satunya putra Husein yang selamat dari Karbala karena sedang sakit keras. Ia menangis selama 40 tahun setiap mengingat tragedi Karbala. Setiap hendak wudhu, wajahnya pucat pasi. Ditanya kenapa, ia menjawab: "Aku akan menghadap Allah."
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-4
Generasi 5 Ahlul Bait
Muhammad Al-Baqir
Al-Baqir (Pembelah Ilmu)
Tahun: 676-743 M
Lokasi: Madinah
Ulama besar yang dijuluki "pembelah ilmu" karena kedalaman pengetahuannya. Imam Abu Hanifah berguru kepadanya. Ia mengajarkan bahwa ilmu harus dibagi, bukan disimpan rapat-rapat. "Ilmu itu seperti air mengalir, jika diam akan keruh," katanya.
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-5
Generasi 6 Ahlul Bait
Ja'far Ash-Shadiq
Ash-Shadiq (Yang Jujur)
Tahun: 702-765 M
Lokasi: Madinah
Guru Imam Malik dan Abu Hanifah. Sejak kecil sudah dikenal kejujurannya. Seorang tetangga menitipkan uang, saat diambil Ja'far bertanya detail warna wadah dan jumlahnya. "Aku tidak meragukanmu, tapi agar tidak ada fitnah di belakang," katanya.
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-6
Generasi 7 Ahlul Bait
Musa Al-Kazhim
Al-Kazhim (Yang Menahan Amarah)
Tahun: 745-799 M
Lokasi: Madinah/Baghdad
Dijuluki Al-Kazhim karena kesabarannya. Seorang lelaki pernah mencacinya di depan umum. Ia tidak membalas, bahkan mengirimkan hadiah. Lelaki itu menangis dan meminta maaf. "Kami Ahlul Bait, jika marah tidak akan pernah padam kecuali dengan kebaikan," katanya.
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-7, leluhur jalur Al-Kazhimi Asia Tengah
Generasi 8 Ahlul Bait
Ali Ar-Ridha
Ar-Ridha
Tahun: 765-818 M
Lokasi: Madinah/Khurasan
Imam ke-8 yang diangkat putra mahkota oleh Khalifah Al-Makmun, namun ia lebih memilih hidup sederhana. Ia berkata: "Tidak ada kemuliaan sejati kecuali dengan takwa."
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-8
Generasi 9 Ahlul Bait
Muhammad Al-Jawad
At-Taqi
Tahun: 811-835 M
Lokasi: Madinah
Sudah menjadi imam sejak usia 9 tahun. Para ulama awalnya meragukannya, namun ia menjawab semua pertanyaan sulit dengan sangat bijak. "Kebijaksanaan tidak diukur dari usia, tapi dari cahaya yang dianugerahkan Allah," katanya.
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-9
Generasi 10 Ahlul Bait
Ali Al-Hadi
An-Naqi
Tahun: 829-868 M
Lokasi: Madinah/Samarra
Menghabiskan 20 tahun dalam tahanan rumah di Samarra, namun tetap produktif menulis risalah-risalah keislaman melalui surat yang diselundupkan. "Kebenaran tidak bisa dipenjara," katanya.
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-10
Generasi 11 Ahlul Bait
Hasan Al-Askari
Al-Askari
Tahun: 846-874 M
Lokasi: Samarra
Dikenal sangat dermawan meski hidup dalam pengawasan ketat. Ia diam-diam mengirimkan bantuan kepada fakir miskin di malam hari agar tidak diketahui siapa pemberinya. "Sedekah yang paling utama adalah yang tidak diketahui tangan kiri apa yang diberikan tangan kanan," katanya.
Nasab Ahlul Bait
Imam ke-11
Generasi 12 Asia Tengah
Ali Al-Husaini As-Samarqandi
Ali Al-Akbar
Tahun: Wafat ± 910 M
Lokasi: Samarqand, Uzbekistan
Pertama kali membawa jalur Husein ke Asia Tengah. Ia datang ke Samarqand saat kota itu baru mulai berkembang. Berdakwah sambil berdagang sutra. Ia selalu memberikan diskon khusus kepada non-Muslim yang datang ke tokonya. "Agar mereka tahu bahwa Islam mengajarkan kasih sayang, bukan keuntungan semata," katanya.
Migrasi Asia Tengah
Berdakwah ke Asia Tengah
Generasi 13 Asia Tengah
Muhammad Al-Bukhari Al-Husaini
At-Tirmidzi
Tahun: Wafat ± 950 M
Lokasi: Bukhara/Samarqand
BUKAN Imam Bukhari penyusun hadis, ini jalur nasab yang berbeda. Ia adalah ulama sufi yang mengajarkan tasawuf kepada para saudagar di jalur sutra. Ia memiliki kebiasaan unik: setiap kali hujan turun, ia keluar dan berdoa di bawah rintik hujan. "Hujan adalah rahmat yang Allah turunkan gratis, mengapa kita tidak mensyukurinya?" katanya.
Migrasi Asia Tengah
Jalur nasab Al-Husaini
Generasi 14 Asia Tengah
Ahmad Al-Farghani Al-Husaini
Al-Farghani
Tahun: Wafat ± 990 M
Lokasi: Fergana, Uzbekistan
Berdakwah di Lembah Fergana yang dikelilingi pegunungan. Ia dikenal sebagai "Wali Gunung" karena sering bertapa di gua-gua pegunungan. Penduduk setempat bercerita, jika ia berdoa di puncak gunung, gema suaranya terdengar sampai ke lembah.
Migrasi Asia Tengah
Dakwah di Lembah Fergana
Generasi 15 Asia Tengah
Isa Al-Asfahani Al-Husaini
Al-Asfahani
Tahun: Wafat ± 1030 M
Lokasi: Isfahan, Persia
Dari Persia ke Asia Tengah. Ia memiliki seekor keledai tua yang menemaninya berkeliling berdakwah. Suatu hari keledainya mati, para murid ingin menguburkannya. Ia melarang, "Biarkan ia di sini, menjadi pengingat bahwa kita semua akan kembali ke tanah."
Migrasi Asia Tengah
Persia - Asia Tengah
Generasi 16 Asia Tengah
Ibrahim Al-Khwarizmi Al-Husaini
Al-Khwarizmi
Tahun: Wafat ± 1070 M
Lokasi: Khwarizm, Uzbekistan
Berdakwah di kawasan Laut Aral yang tandus. Ia mengajarkan pertanian kepada masyarakat nomaden. Ia membawa biji-bijian dari Persia dan mengajarkan cara bercocok tanam di lahan kering. "Bumi ini diciptakan Allah untuk dirawat, bukan dirusak," ajarannya.
Migrasi Asia Tengah
Kawasan Laut Aral
Generasi 17 Asia Tengah
Abdurrahman Al-Ghaznawi Al-Husaini
Al-Ghaznawi
Tahun: Wafat ± 1110 M
Lokasi: Ghazni, Afghanistan
Jalur migrasi ke Asia Selatan. Ia adalah panglima perang yang kemudian memilih jalan damai. Setelah menaklukkan sebuah benteng, ia justru membebaskan semua tawanan dan meminta maaf atas pertumpahan darah. "Kemenangan sejati bukan menaklukkan musuh, tapi menaklukkan hawa nafsu sendiri," katanya.
Migrasi Asia Tengah
Jalur migrasi ke Asia Selatan
Generasi 18 Asia Tengah
Muhammad Al-Gujarati Al-Husaini
As-Samarqandi
Tahun: Wafat ± 1150 M
Lokasi: Gujarat, India
Migrasi ke India Utara. Ia datang ke Gujarat sebagai pedagang rempah, namun terkenal karena keahliannya menyembuhkan penyakit. Ia bisa mendiagnosis penyakit hanya dengan meraba denyut nadi. Ia tidak pernah meminta bayaran.
Migrasi Asia Tengah
Migrasi ke India Utara
Generasi 19 Asia Tengah
Ahmad Syah Al-Multani Al-Husaini
Ahmad Syah
Tahun: Wafat ± 1190 M
Lokasi: Multan, Pakistan
Dakwah di Lembah Indus. Ia dikenal karena metode dakwahnya yang unik: mendirikan dapur umum yang buka 24 jam. Siapa pun boleh makan gratis, tanpa memandang agama. "Perut yang kenyang lebih mudah menerima nasihat daripada perut yang lapar," katanya.
Migrasi Asia Tengah
Dakwah di Lembah Indus
Generasi 20 Asia Tengah
Ismail An-Naqib Al-Husaini
As-Sindhi
Tahun: Wafat ± 1230 M
Lokasi: Sindh, Pakistan
Naqib (pencatat nasab) keturunan Husein di Sindh. Ia menghabiskan 30 tahun hidupnya berkeliling mencatat silsilah keluarga Al-Husaini yang tersebar di Asia Selatan. "Agar anak cucu tahu dari mana mereka berasal," katanya.
Migrasi Asia Tengah
Naqib keturunan Husein
Generasi 21 Nusantara
Jamaluddin Al-Husaini
Jamaluddin Akbar
Tahun: Wafat ± 1270 M
Lokasi: Samudera Pasai
Dakwah ke Nusantara, generasi awal Samudera Pasai. Ia datang ke Pasai saat kerajaan Hindu-Buddha masih berkuasa. Ia tidak langsung berdakwah, tapi bekerja sebagai nelayan. Setiap kali dapat ikan, ia bagikan ke tetangga. "Dakwah bukan tentang apa yang kau ucapkan, tapi tentang apa yang kau lakukan," katanya.
Nusantara
Dakwah ke Nusantara
Generasi 22 Nusantara
Ibrahim As-Samarkandi Al-Husaini
Ibrahim As-Samarkandi
Tahun: Wafat ± 1310 M
Lokasi: Samudera Pasai
Awal jalur ke Campa. Ia adalah seorang nahkoda kapal yang kemudian memilih menetap di Pasai. Suatu ketika kapalnya dihantam badai, semua panik, ia justru tenang dan berdoa. Kapal selamat, awak kapal yang tadinya Hindu dan Buddha berbondong-bondong masuk Islam.
Nusantara
Awal jalur ke Campa
Generasi 23 Nusantara
Maulana Ahmad Al-Husaini
Maulana Ahmad Campa
Tahun: Wafat ± 1350 M
Lokasi: Campa
Dakwah ke Kerajaan Campa, kakek Maulana Malik Ibrahim. Ia menikah dengan putri raja Campa yang kemudian masuk Islam. Sang putri bermimpi bertemu Nabi Muhammad, Nabi bersabda bahwa seorang ulama dari Pasai akan datang dan membawa cahaya. Esok harinya, Maulana Ahmad tiba di istana.
Nusantara
Dakwah ke Kerajaan Campa
Generasi 24 Nusantara
Maulana Ishaq Al-Husaini
Maulana Ishaq
Tahun: Wafat ± 1380 M
Lokasi: Campa - Pasai
Ayah Maulana Malik Ibrahim. Ia menikah dengan Dewi Sekardadu, putri Raja Blambangan. Karena fitnah, ia diusir, dan bayinya (Sunan Giri) dihanyutkan ke laut. Sebelum pergi, ia berpesan: "Anakku akan selamat. Lautan adalah rahmat Allah, ia akan membawanya ke pangkuan orang-orang baik."
Nusantara
Ayah Maulana Malik Ibrahim
Generasi 25 Nusantara
Maulana Jumadil Kubro Al-Husaini
Jumadil Kubro
Tahun: Wafat ± 1410 M
Lokasi: Pasai - Jawa
Dakwah ke Jawa, leluhur Walisongo. Ia adalah ulama yang pertama kali membawa ajaran tasawuf ke tanah Jawa. Ia menanam pohon kelapa di pesisir utara Jawa, lalu berkata: "Jika pohon ini berbuah, maka Islam akan berakar di Jawa." Pohon itu tumbuh besar.
Nusantara
Dakwah ke Jawa
Generasi 26 Walisongo
Maulana Malik Ibrahim
Sunan Gresik
Tahun: Wafat 1419 M
Lokasi: Gresik
Pelopor Walisongo. Ia selalu membawa dompet kulit lusuh kemana pun pergi. Para murid mengira itu berisi emas. Setelah ia wafat, dompet itu dibuka, isinya bukan emas, tapi tanah dari Gresik. Ia berpesan: "Tanah inilah yang akan menjadi saksi perjuanganku. Bukan emas, bukan perak, tapi cinta pada tanah air."
Walisongo
Dari Kashan, Persia
Generasi 27 Walisongo
Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Bapak Walisongo
Tahun: 1401-1481 M
Lokasi: Ampel, Surabaya
Lahir di Campa, ibu Jawa. Ia menciptakan filosofi "Moh Limo". Ia tidak pernah menghardik pencuri yang mencuri keledainya. Ia hanya berkata: "Bawa saja, mungkin kau lebih membutuhkannya." Pencuri itu malah mengembalikan keledainya dan masuk Islam.
Walisongo
Ibu Jawa, ayah Persia-Campa
Generasi 28 Walisongo
Sunan Giri (Raden Paku)
Penyebar Islam Indonesia Timur
Tahun: 1442-1506 M
Lokasi: Giri, Gresik
Putra Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu. Saat bayi ia dihanyutkan di laut karena fitnah. Ditemukan Nyi Ageng Pinatih di sela-sela karang. Bayi itu tersenyum. Nyi Ageng berkata: "Kau seperti samudra yang tenang. Kuberi nama Jaka Samudra." Kelak ia menjadi Sunan Giri.
Walisongo
Ibu Jawa, lahir di Blambangan
Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim)
Seniman Dakwah
Tahun: 1465-1525 M
Lokasi: Bonang, Tuban
Putra Sunan Ampel. Ia menciptakan gamelan "Bonang" yang berbunyi merdu. Saat memainkan bonang di tengah hutan, binatang-binatang berkumpul mendengarkan. Seorang pemburu yang melihat kejadian itu terkesima dan masuk Islam. "Musik adalah bahasa universal," katanya.
Walisongo
Pencipta Tombo Ati
Sunan Drajat (Raden Qasim)
Dakwah Sosial
Tahun: 1470-1522 M
Lokasi: Drajat, Lamongan
Putra Sunan Ampel. Ia dikenal dengan ajarannya: "Mènèhana teken marang wong kang wuta" (berilah tongkat kepada orang buta). Ia tidak pernah tidur di rumah mewah, ia tidur di gubuk bersama fakir miskin.
Walisongo
Fokus pemberdayaan ekonomi
Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Penyebar Islam Jawa Barat
Tahun: 1448-1568 M
Lokasi: Cirebon
Ibu Jawa, lahir di Jawa. Ia hidup hingga 120 tahun dan menyaksikan 3 abad. Saat berusia 100 tahun, ia masih memimpin pasukan membebaskan Sunda Kelapa dari Portugis. Rahasia panjang umurnya: "Aku tidak pernah menyimpan dendam lebih dari sehari."
Walisongo
Ibu Jawa
Generasi 29 Walisongo
Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)
Akulturasi Budaya
Tahun: 1500-1550 M
Lokasi: Kudus
Panglima perang Demak yang kemudian menjadi ulama. Ia melarang penyembelihan sapi untuk menghormati umat Hindu. Ia membangun menara masjid mirip candi. Seorang pendeta Hindu datang marah, ia justru mempersilakan naik ke menara. Pendeta itu menangis: "Kau tidak menghancurkan agamaku, kau menyempurnakannya."
Walisongo
Menara mirip candi
Sunan Kalijaga (Raden Said)
Wali Paling Jawa
Tahun: 1450-1513 M
Lokasi: Kadilangu, Demak
Putra bupati Tuban. Ia menciptakan wayang kulit dengan bentuk berbeda dari wayang Hindu. Ia mementaskan wayang semalam suntuk tanpa bayaran. Di tengah pertunjukan, ia berhenti dan berkata: "Maaf, dalangnya capek. Tapi ada Dalang Agung yang tidak pernah capek." Seluruh penonton mengucap syahadat.
Walisongo
Pencipta wayang, sekaten, baju takwa
Generasi 30 Walisongo
Sunan Muria (Raden Umar Said)
Wali Rakyat Kecil
Tahun: 1480-1551 M
Lokasi: Gunung Muria
Putra Sunan Kalijaga. Ia memilih tinggal di lereng Gunung Muria, bukan di istana. Metode dakwahnya "Topo Ngeli": menghanyutkan diri dalam arus masyarakat kecil. Ia turun gunung setiap Jumat untuk menemui para petani di sawah. Ia duduk di pematang, makan bekal bersama mereka.
Walisongo
Dakwah petani
Sumber: Riset NAAT (Naqobah Ansab Auliya Tis'ah), Isbat Nasab Naqib Maroko-Turki-Irak, Manuskrip Asia Tengah, Naskah Campa, Babad Tanah Jawi, Atlas Wali Songo.
Jalur Al-Kazhimi Al-Husaini Asia Tengah